Minggu, 20 Januari 2008

Kerinduan

Entah.... malam ini, hanya kedinginan yang entah... menghantar resah larut dalam desah, panjang, sepanjang lolongan anjing malam Oemar

Sajak Air Mata

Sajak Air Mata
Puja dan pinta hanya bagi Allah semata, yang telah mengkaruniai air mata. Sehingga dapat kutumpahkan, kala hati meratapi kenyataan-kenyataan pahit berkalang duka lara; kala jiwa merangkai bait-bait doa, maka air mata menjadi tinta…
Air mata. Sebagai tebusan ketakberdayaan. Bahkan untuk melampiaskan rindu rendam, gelora cinta, pada manusia-manusia yang telah mencuri hati dan cintaku dari kerajaan kalbu; hanya dengan air mata.
Dan kala air mata menjadi kata akhir dari sebuah kebersamaan —hingga menjadi perpisahan—dua jiwa yang dilanda cinta, dan tak kan pernah bersatu jua, sebab keniscayaan setia menanti di batas perjalanan mimpi.
Alhamdulillâh, Engkau berkenan mencipta air mata sebagai pintu menuju keabadian-Mu. Tuk menghayati kepedihan hidup dan kelaraan jiwa, sebagai keindahan Takdir dan keagungan Cinta.
Lalu. Mengapa puisi ini tercipta? Jika tidak karena kepedihan yang terpendam, panjang sepanjang impian. Sebab puisi adalah lagu yang meng-iramakan nyanyian kalbu.
Mengapa sajak ini ada? Jika bukan sebagai jeritan-jeritan dalam, yang setia menemani malam. Maka, sajak itupun hadir, atau bahkan tuk menghibur kepekatan yang ‘tenggelam’.
Jika sajak itu masih setia mencumbui bibir,
menggerakkan pena dan menggoreskan tinta; hati dan jiwa masihlah punya rasa.
Syahdan, beruntunglah mereka yang dikaruniai ketajaman rasa. Agar tak liar pengembaraan jiwa terbawa nafsu. Karena rasa telah jadi penuntun jalan… bahkan untuk menemui Tuhan!
Beruntung pula, mereka yang telah “ber’azam” untuk memulai “kembara jiwa”nya… tuk bersowan menujus Tuhan. Apalagi, telah dilaluinya kemelut-kemelut, sayatan-sayatan sembilu, terjangan badai, atau kenyataan-kenyataan yang paling pahit, dan atau kenyataan yang terindah, ‘bertemu Tuhan!”
Membaca sajak. Menelusuri jejak kembara jiwa. Menjejak Tuhan. Sangatlah indah !!!
[wallâhu a’lam bi as-shawâb]